LATAR BELAKANG, PROSES, DARI KONFLIK
ANTARA INDIA DENGAN PAKISTAN SEMPAI SAAT INI
1.INDIA
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa india merupakan salah satu Negara
Republik yang berada di Asia bagian Selatan. Republik India adalah sebuah
Negara di Asia yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, hal
ini sesuai dengan sensus penduduk yang ternyata berhasil mencatat populasi
penduduk di India yang mancapai lebih dari satu miliyar jiwa, serta merupakan
Negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografisnya. Peningkatan
jumlah populasi penduduk di India tercatat meningkat pesat sejak pertengahan
tahun 1980-an.
Dalam hal bidang ekonomi, India merupakan Negara yang memiliki
tingkat perekonomian terbesar keempat di dunia dalam PDB, hal ini diukur dari
segi peritas daya beli (PPP), dan merupakan salah satu Negara yang memiliki
pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Sistem Negara India bersifat demokrasi liberal yang merupakan Negara
demokrasi liberal terbesar di dunia. Di Negara India juga telah muncul sebagai
kekuatan regional yang penting, dan memiliki kekuatan militer terbesar dan
mempunyai kemampuan sejata nuklir.
Letak Negara India berada di wilayah Asia bagian Selatan, dengan garis
pantai sepanjang 7.000 km. India juga merupakan sebuah Negara yang manjadi
bagian dari rute perdagangan penting dan bersejarah.
India juga merupakan tempat dari berkembangnya peradaban kuno, seperti
Budaya Lembah Indus dan merupakan tempat kelahiran dari empat agama utama
di dunia, yaitu: Hindu, Budha, Jainisme, dan Sikhisme. Negara ini juga
merupakan bagian dari Britania Raya sebelum meraih kemerdekaannya pada
tahun 1947.
2.PAKISTAN
Pakistan merupakan Negara yang berasal dari pembagian wilayah Negara
India. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pada tahun 1947 terjadi pembagian di
wilayah Negara India yang melahirkan Negara baru yang disebut dengan Negara
Pakistan.
Negara Pakistan sendiri mulai muncul di peta dunia pada tanggal 14
Agustus 1947. Mayoritas penduduk Pakistan beragama Muslim. Pakistan
didirikan pada saat puncak perlawanan Kaum Muslim di kawasan Asia Selatan
yang ingin memisahkan diri dari negerinya. Dan perlawanan ini pun berhasil,
akhirnya mereka pun dikeluarkan dari negerinya.
LATAR BELAKANG TERJADINYA KONFLIK INDIA-PAKISTAN
Latar belakang terjadinya perang India dengan Pakistan berawal dari
konflik politik, yaitu tentang perebutan wilayah Kashmir.
Hal ini bermula pada tahun 1941, yaitu ketika Gulab Singh dan
penggantinya menguasai Kashmir. Dan pada sensus tahun 1941, wilayah Kashmir
memiliki jumlah penduduk sebesar 4.021.698 orang, serta 3.101.247 diantaranya
adalah beragama Muslim. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pada wilayah yang
bergejolak di Kashmir, 94% penduduknya beragama Muslim.
Pada saat itu rakyat Kashmir bangkit melawan kekuasaan Penguasa
Kashmir. Hal ini dipicu oleh sikap penguasa yang terkenal dengan kekejamannya,
terutama pada saat proses penumpasan pemberontakan yang terjadi pada tahun
1931. Kemudian pada tahun 1932, Sheikh Abdullah membentuk sebuah paratai
politik di Kashmir yang dikenal dengan the Jammu & Kashmir Muslim
Conference (yang kemudian dirubah namanya menjadi National Conference pada
tahun 1939).
Dan pada akhirnya, pada tahun 1934, penguasa Kashmir melunak sehingga
beliau member kesempatan kapada rakyat untuk berdemokrasi namun secara
terbatas, yaitu dengan didirikannya DPR. Namun, rakyat tetap bersikeras untuk
tetap memperjuangkan keinginannya, yaitu keinginan untuk lepas dari kekuasaan
Penguasa Kashmir.
Kemudian berdasarkan instrument pembagian India, penguasa wilayah
diberikan pilihan kepada untuk menentukan kemana mereka akan bergabung, ke
India atau Pakistan. Namun, mereka disarankanuntuk menjadi wilayah tersendiri,
hal ini sesuai dengan mempertimbangankan wilayah geografi dan masalah etnik.
Sesuai dengan pemaparan tadi, maka dari sinilah dimulainya konflik
antara India dengan Pakistan.
PROSES PERANG INDIA-PAKISTAN
Perang India-Pakistan, merupakan perang yang terjadi sejak bulan Agustus
1947, perang ini terjadi antara India dengan Pakistan. Peristiwa ini memiliki
empat kejadian perang, tiga diantranya merupakan perang utama dang yang lainya
merupakan perang kecil yang terjadi dianyara kedua Negara. Tiap kasus perang
yang terjadi, penyebab utamanya ialah perebutan wilayah Kashmir, kecuali perang
yang terjadi antara India-Pakistan pada tahun 1971 yang disebabkan oleh masalah
wilayah Pakistan Timur.
Perang yang terjadi
Perang India-Pakistan 1947: Pakistan merbut 1/3 Kashmir (Pakistan
mengklaim Kashmir sebagai wilayahnya) dengan bantuan Pashtun. Hindu
dan Sikhs dihilangkan dari Kashmir Pakistan. India membalas dengan
mengirim pasukan ke Gurdaspur.
Perang India-Pakistan 1965: Pasukan Pakistan berusaha memasuki teritori
Kashmir India untuk memicu pemberontakan oleh Kashmir. Rencana ini
gagal dan penyusup dapat ditemukan, sehingga India membalas hal ini.
Perang ini diakhiri dengan gencatan senjata, dan India dapat merebut
sedikit teritori Pakistan.
Perang India-Pakistan 1971: Bangladesh meminta kemerdekaan dari
Pakistan. Tentara Pakistan melakukan pembunuhan dan pemerkosaan
besar di Bangladesh dan genoside penduduk Bengali. Jutaan pengungsi
pindah ke India. India membantu Mukti-Bahini Bangladesh dan
menaklukan Pakistan, sehingga Bangladesh merdeka dan Pakistan
menyerah seluruhnya.
Perang India-Pakistan 1999, juga disebut "Perang Kargil": Tentara
Pakistan dan beberapa pemberontak Kashmir merebut pos tentara India.
India membalas dan merebut kembali pos itu. Tekanan internasional
terhadap Pakistan membuatnya mundur. Perang berakhir dengan India
merebu Kargil dan isolasi diplomatik Pakistan.
Cara Penyelesaian Konflik
Berdasarkan asumsi dari teori realisme situasi damai dikatakan dapat terjadi ketika terjadi Balance of Power yaitu dimana terdapat dua kekuatan yang secara relatif sama kuat, yang kemudian akan saling mengancam, namun tidak saling menyerang. Situasi ini, berdasarkan teori realisme disebut sebagai situasi yang damai. Dalam kasus konflik India-Pakistan, hal ini juga terjadi dimana baik India maupun Pakistan sama-sama saling mengancam melalui penempatan rudal-rudal baik India maupun Pakistan di daerah perbatasan. Selain itu realisme mempunyai asumsi bahwa salah satu alternatif cara penyelesaian konflik adalah dengan perang. Hal ini kemudian terkenal dengan istilah “Civis Pasum Para Bellum” yang berarti jika ingin berdamai maka bersiaplah untuk berperang. Maka berdasarkan asumsi teori realisme, cara penyelesaian konflik yang terbaik antara India dan Pakistan adalah dengan perang.
Hakikatnya persetujuan Soviet Union (SU) dengan Amerika Syarikat (AS) pada tahun 1972 yang berhasil membentuk Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) dalam mewujudkan kawalan dalam pembinaan senjata nuklir, sistem pelancar senjata nuklir dan sebagainya oleh kedua-dua negara dapat dijadikan sebagai model yang dapat diaplikasikan sebagai jalan penyelesaian terhadap masalah India dan Pakistan. Walaupun dalam era Perang Dingin menyaksikan AS dan Soviet Union terlibat dalam persaingan kuasa dan senjata yang sangat berisiko mampu mencetuskan peperangan, namun ia berhasil dielakkan atau dihindari melalui persetujuan pembentukan SALT I.
Keberhasilan SALT I telah mampu memupuk keyakinan dan kepercayaan antara kedua-dua kuasa besar dunia yang secara langsung memperluaskan kerjasama mengadakan pengawasan terhadap penghasilan senjata ofensif dan pengurangan dari segi kekuatan persenjataan antara negara dalam SALT II pada tahun 1979. Model SALT ini sebenarnya boleh diaplikasikan dalam masalah hubungan ada India dan Pakistan. Persetujuan kedua-dua negara ini untuk mengadakan pengawasan terhadap persenjataan pasti akan meningkatkan keyakinan dan kepercayaan antara negara yang secara langsung meredakan dilema keselamatan serta mengurangkan risiko tercetusnya peperangan.
Perlu kita pahami dalam fenomena persaingan senjata, seperti penghasilan, pemilikan dan pembangunan persenjataan oleh sesebuah negara akan mengundang kepada terwujudnya kesan sampingan ke atas negara lain dengan timbulnya ancaman yang jelas ataupun sebagai dilema keselamatan. Dengan tiadanya usaha dan tatacara pengawasan dalam penghasilan dan pemilikan persenjataan oleh India dan Pakistan, hal ini justru akan membuat peluang untuk munculnya konflik menjadi sangat besar.
Proses ini sebenarnya dapat kita lihat dalam skenario pemilikan nuklir oleh India yang dibangunkan semenjak 1960-an telah mencetuskan fenomena persaingan senjata dengan seterunya di mana Pakistan turut membangunkan nuklear pada 1970-an untuk memastikan sistem pertahanan dan ketenteraannya tidak ketinggalan dan seimbang. Persaingan pesat ini telah membawa kepada peningkatan risiko konflik yang lebih besar yaitu peperangan nuklir yang meletus pada tahun 1998.
Walaupun berbagai usaha dan desakan masyarakat dunia berhasil menghalang peperangan meletus antara kedua-dua negara ini pada tahun 1998, namun hal ini tidak berarti risiko peperangan antara India-Pakistan telah reda. Sebaliknya uji coba senjata nuklir yang sering dijalankan oleh kedua-dua negara mampu membuka ruang kepada meletusnya ketegangan seperti mana yang telah dilalui pada tahun 1998.
Pembentukan SALT di antara India dan Pakistan akan merintis kepada pembinaan keyakinan antara negara. Peningkatan keyakinan yang kukuh akan membawa kepada hubungan yang baik dan mendorong kaedah diplomasi dijadikan sebagai langkah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang membelenggu hubungan kedua-dua negara.
PENUTUP